Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Dimensi Malam

Oleh: Ansyar FPP


“Eh Pi, kenapa ya ayahmu tidak lagi ke sini?” tanya Ifit seolah tahu apa yang menjadi batang pikirku saat ini.
Fuuh...
“Entahlah Fit, aku juga nggak tau,” ucapku sambil manatap kosong ke langit. Kulihat bulan tertutup awan, bintang-bintang tidak terlalu tampak malam ini, tidak seperti malam-malam sebelumnya. Aku sering bertanya-tanya, apakah malam seperti ini sebuah portal dimensi baru yang bisa kumasuki. Aku ingin lari saja dari hidupku, mungkin kelak dimensi malam akan membawaku menghilang jauh dari dunia yang penuh duka ini.
“Sabar ya Pi, mungkin ayah kamu masih sibuk kerja.” Akbar mencoba menghiburku. Aku hanya tersenyum kecut mendengarnya. Kalaupun Ayah sibuk kerja pastinya sesekali akan menjengukku. Lah ini, sudah tiga kali orang tua Dani datang, ayah dan ibuku tak pernah datang juga. Gread!! Tapi Allah memang maha adil. Di saat seperti ini masih saja ada dua orang sahabat yang setia menemani dan mendengarkan isi hatiku.
“Iya Pi, sabar ya...!” ucap Ifit sambil mengelus bahuku.
“Terimakasih Bar, Fit, kalian baik sekali,” ucapku menatap mereka berdua.
*****

“Panggilan kepada santri yang bernama Muhammad Alpiannoor Bin Haji Mahli, berasal dari Amuntai, agar bisa menuju ruang tunggu karena ada tamu!” Suara dari mic itu melengking menyebut namaku. Aku berlonjak kegirangan dan langsung menuju ke ruang tunggu, tempat biasanya tamu-tamu menunggu.
Kulihat cuma ada amangku di ruang tunggu. Aku kecewa. Langsung kutanyakan di mana Ayah. Katanya, Ayah tidak bisa datang karena sangat sibuk. Hmmm, mungkin aku bisa memakluminya.
Setelah menyerahkan uang untuk keperluanku, Amang berdiri dari tempat duduknya dan melangkah ingin pulang. Aku mengikutinya. Tiba-tiba beliau berpaling dan kembali duduk.
“Kenapa Mang?” tanyaku keheranan.
“Amang rasa tidak ada gunanya menyembunyikan ini semua darimu.” Amang mengambil napas dan melanjutkan bicaranya. “Sebenarnya, ayahmu sudah melakukan poligami!”
“Hah...?!” jeritku tak percaya. “Benarkah itu Mang?”
“Benar...” ucap beliau mengangguk. Aku geram. Lalu Amang menceritakan semuanya, mulai dari awal cerita mengenal cewek ganjen, sampai akhirnya menikahinya. Aku yakin Ayah pasti kena pelet. Bagaimana mungkin, masa baru tiga kali bertemu Ayah sudah mengajak cewek itu nikah?
“Coba kamu ajak bicara ayahmu dari hati ke hati. Kasihan ibumu hampir stres menghadapinya. Apalagi ibumu baru saja melahirkan.” jelas Amang sabar.
Pikiranku melayang terbang ke rumah. Di dalam benakku kulihat Ibu tersimpuh meneteskan air mata sambil menggendong Lia, adik kecilku nan malang. Sepeninggal Ayah ke istri mudanya. Mama menangis, hatiku terasa retak. Sakit sekali!
*****
“Pi, kenapa sih kamu akhir-akhir ini seperti tidak semangat hidup saja, padahal kan kemarin baru datang tamu?” tanya Akbar padaku.
“Iya ni, kanapa sih?” Ifit menimpali.
“Bar, Fit, kalian mau tidak nolongin aku?”
“Nolongin apa?” ucap mereka hampir bersamaan.
“Izinkan aku ke Ustadz. Aku ingin pulang!”
“Hah?! Kenapa?”
“Ah, tidak usah banyak tanya! Mau tidak?
“Oke, oke, mana kartu izinnya?”
“Nih!” ucapku sambil menyerahkan kartu izin pada Akbar.
“Fit, ayo berangkat! haha...” Dasar Akbar, tidak tahu teman sedih masih saja ngakak.
“Oy, tunggu, aku ganti baju dulu!” teriak Ifit karena Akbar sudah pergi lebih dulu. Aku tersenyum melihat tingkah mereka itu.
*****
“Apa-apaan ini, Bu?” ucapku sambil menahan sesak di dada. Kulihat baju Ibu berhamburan. Sepertinya tadi ada pertengkaran. Rupanya begini sambutan atas kedatanganku. Ah, apa tidak ada yang lebih buruk lagi?!
“Tanya ayahmu!” jawab Ibu kesal, air matanya menetes.
Aku masih berdiri mematung. hatiku terasa dikuliti. Sakit...!
“Ah...!” teriakku membanting pintu.
Brak!!!!
Aku masuk ke kamar dan mengamuk sejadi-jadinya.
“Sialan! Ayah jahat!” teriakku sembari meninju lemari sekuat tenaga.

Nuansa Kalbu

Malam menerawang
Gelap yang mengekang

Terdengar gemuruh
Langit yang galau

Gerimis berderu
Kejora yang kelabu

kapankah kabut ini berakhir?
Hati ini menelan kehampaan
Dimanakah bunga-bunga yang menyisakan butir-butir kehidupan?



*****

Untuk Ayah, Ibu, dan semuanya.

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Kusematkan do’a di setiap butiran kata surat ini, semoga dengan tak adanya aku di sisi kalian keluarga kita bisa seperti sedia kala. Amin...
Ayah dan Ibu tercinta, maafkan bila selama ini aku telah meyalahkan harta yang kalian titipkan untukku. Ampuni bila selama ini aku telah mengkhianati amanah yang kalian letakkan di pundakku karena sungguh anakmu ini tak pernah luput dari salah dan dosa.
Ayah dan Ibu tercinta, kuharap dengan matinya aku kalian bisa sadar bahwa semua yang kalian lakukan itu telah menoreh luka yang teramat dalam. Hidupku tidak ada artinya lagi. Semoga kalian bisa sadar.

Alpiannor

Aku melesat dengan motorku secepat mungkin. Mataku tak bisa melihat dengan jelas karena air mata yang sedari tadi terus menetes dari kedua mataku. Aku sudah tak peduli lagi akan seberapa besarnya dosa bunuh diri. Aku telah muak dengan hidupku.
Beberapa meter di depanku jurang telah menghadang. Aku mulai bimbang.
“ASTAGFIRULLAH....!!!”
Kuinjak rem sekuat tenaga. Namun sial, motorku terlalu cepat, dan aku terlambat. Tubuhku melayang. Hatiku terasa penuh dosa.
*****
“Alpi, Alpi, kau sadar Pi?!” Suara Ibu terdengar samar.
“Alpi anakku, maafkan ayah Nak!” Terdengar rintihan Ayah dalam isak tangis.
Kucoba membuka mata. Yang terlihat hanya gelap, tapi perlahan-lahan berwarna. Ayah, Ibu, Kak Lisa, Adikku Lia, selang infus, tembok berwarna putih.
Aku tersenyum. Ternyata aku belum mati. “Yah, ini permintaanku yang harus Ayah turuti, uhuk...” kata-kataku tidak selesai karena tenggorokanku terasa sangat mencekik.
Kak Lisa segera memberiku air putih. Aku pun melanjutkan ucapanku.
“Ceraikan istri muda Ayah itu!”
“Sudah Pi, Ayah sudah sadar bahwa kalian adalah harta Ayah yang paling berharga....” Tutur Ayah penuh air mata.
Bahagia langsung membelai hatiku. Aku tersenyum. Kurasakan melihat bulan yang purnama, ditemani ribuan bintang yang berkilauan. Ah, dimensi malam...[]



Miftah
Oleh: Ancayimuet

(23-3-2009)
Kamu hari ini sangat lucu, teman-teman jadi ngikik semua. Hi…hi….hi…! Tapi katamu, ada sesuatu yang pengen kamu omongin, yang katanya penting, apa?!
Aku jadi penasaran.
“Mif, apa sich yang pengen kamu omongin?”
“Kena gin…, santai zha pang…!”
“Nanti?! Kapan lagi, coba ?!”

“Malam kena pang, jangan gaya amrad nah…! He…he…”
“Lucu, banget!! Aku jadi gondok ngomong sama kamu.”
Gak lama, malam pun tiba. Bulan memancarkan sinar terangnya, bintang berkelap-kelip seolah malu menampakkan dirinya. Aku kembali memaksamu.
“Mif, cepat dong. Apa yang pengen kamu omongin?!”
“Aduh…, jar unda kena, tinggi malam…!!”
“Yee…, aku ngantuk nich. Sekarang azha…!”
Akhirnya kamu duduk, siap bicara.
“Sar, ikam jangan takajut! Isuk aku baangkut, ampih!!”
Mendengar itu aku jadi longo, tak banyak aku bisa bicara. Aku sempat tak percaya, tapi kau orang yang jarang bohong. Kau terus bicara, aku pun tau alasan kamu meninggalkan pondok ini. Ya, kamu lebih memilih melanjutkan sekolah SMA di kampung halamanmu. Aku sempat kecewa mendengar itu, namun aku salah, kamu memang sahabat yang tak bisa diremehkan. Mungkin kalau jadi kamu, aku takkan bisa sabar menghadapi semua cobaan itu. Ingin aku meneteskan air mata setelah mendengar sedikit tentang perjalanan hidupmu. Namun aku ini lelaki hebat, yang tak mudah menangis, hanya karena perpisahan.
“Sar, tolong! Jangan dipadahakan lawan buhannya, aku supan. Kena, bila kau sudah kadada tasarah ikam ja ha…!”
Katamu itu terngiang di telingaku dan terus bersarang di otakku. Aku tak mengira kau yang humoris dan selalu ceria itu pun, sedih ketika akan menghadapi perpisahan.
“Insya Allah, aku akan menjaga rahasiamu, Mif.”
“Oke! Mun kaitu , aku handak balilipat dulu nah…”
Kami pun beranjak dan pergi, sejak itu, hati gelisah, selalu berjuang menahan sedih. Kucoba pejakan mata, ingin segera menuju ke alam mimpi. Aku tak mau sedih ini kamu lihat, di dalam hatiku aku ingin besok kamu tidak benar-benar pergi.
***
(26 – 3 – 2009)
Taukah kamu, Mif?! Sedihkah kamu, Mif?! Taukah kelas ini sunyi pengap tanpa kamu?! Taukah kamu kesedihan kami sepeniggal kamu?! Kamu tau Mif, bagaimana rasanya hatiku?! Sedih…, Mif!! Sekarang kelas ini jadi lesu, bahapakan jadi basi, tak bergairah, kenapa?! Karena tak ada kamu lagi di sini! Tiada tawa seperti dulu, tiada canda seperti dulu, semuanya telah berlalu bersama lukaku.
Namun kenyataan kau telah pergi, perpisahan sudah benar-bena terjadi. Sebagai lelaki hebat aku akan membuktikan kepadamu, roman kelas ini akan selalu ceria tanpa kamu hadir di sini, aku akan berusaha membuat teman-teman senang dan penuh canda, tanpa kamu ada di tengah-tengah kami. Mif, maukah kamu mendengarkan lagu lantunan hati kami?? Pasti, mau!! Ya, kan?!

Kepompong

Dulu kita sahabat
Teman begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari
Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu-kupu
Kini kita melangkah berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karna sesuatu
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karna ku sayang…
Reff:
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabataan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan

Semua yang berlalu biarkanlah berlalu
Seperti hangatnya mentari
Siang berganti malam sembunyikan sinarnya
Hingga dia bersinar lagi
Dulu kita melangkah berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karena sesutu
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karena ku sayang....


Kepingan Lagu Cinta
Oleh : Anshor FPP

(02 – 02 – 2009)
Hari ini Nad, ingatkah kamu hari apa ini? Ini hari ulang tahunmu, Nad! Sudah kutunggu Nad. Asal kamu tahu, baru saja kita pacaran, kamu sudah buatku tergila-gila Nad, aku sungguh cinta mati. Tapi, tembok itu terus berdiri kokoh menghalangi kita, jerujinya itu tajam tak terperi. Seakan tempatmu di sana wilayah haram untuk kudatangi, seolah dunia milik mereka, seenaknya memisahkan kita, semuanya memenjara hati kita.


Lepaskan aku!
Aku ingin bebas
Terbang bersama napas
Melesat deras
Menuju cintaku….

Namun ternyata aku tak bisa lepas Nad. Peraturan mengurungku, mengharamkan aku untuk bersamamu. Aku tahu Nad, cinta kita terlarang. Aku santri, kamu santriwati. Cinta kita memang terlarang, tapi rasa ini tak bisa kutentang. Kita terperangkap Nad, di dasar laut yang dalam dan kelam, tak ada sinar matahari yang menyinari. Tapi Nad, di dasar laut yang kelam ini terdapat banyak mutiara yang indah dan mahal. Aku, kamu, sama-sama terkurung, terbatas jeruji.
Karena itu Nad, maafkan aku tak bisa menemuimu. Bukan maksudku menyakitimu. Tapi sabarlah Nad, aku janji tanggal lima nanti aku akan menemuimu. Bukankah orang sabar disayang Tuhan, Nad?

(05 – 02 – 2009)
Aku sudah di ruang tunggu Nad, aku datang menepati janji. Hari ini aku pulang bulanan Nad, siapa tahu kamu ingin pulang bersamaku. Tapi kamu dimana Nad?! Lama sudah aku menunggu, kamu tak datang juga. Aku menyerah Nad, hampir dua jam aku menunggu kamu.
Aku melangkah lemas, kecewa. Tiba-tiba ada seseorang memanggilku, aku jadi cerah, kamukan itu, Nad?! O ow…! Itu… bukan kamu, Nad! Aku makin bersedih. Ditambah lagi dia bilang kamu sudah pulang ke rumah, oh kecewaku makin berlipat. Tapi ternyata kekecewaanku itu belum cukup. Dia bilang, kamu sakit parah. Aku langsung pucat Nad, aku khawatir, aku takut. Khawatir, akan kondisimu. Takut, kehilanganmu.
Aku minta diri, berlari mencari taksi. Ketika taksi itu berhenti, aku langsung meloncat sampai kedua kakiku nyeri, saking khawatirnya aku padamu Nad .
Jarak Landasan Ulin - Mataraman terasa sangat jauh. Semenit terasa seminggu .Hatiku sangat gelisah Nad, ada firasat buruk menyerang hatiku. Semoga saja firasat itu takkan terjadi.
Taksi yang kutumpangi memasuki pintu gerbang gang rumahku. Tapi ada yang aneh, bendera hijau tanda duka cita berkibar di gerbang itu.Hatiku berkecamuk. Aku menyimpan sejuta tanya.
Taksi terus melaju tenang, setiap putaran rodanya kurasakan seperti aliran darahku yang mengalir deras, membuat hatiku berdebar hebat.
Taksi berhenti seiring dengan berhentinya aliran darahku. Aku lihat puluhan orang ada di rumahmu Nad. Tapi siapa yang meninggal?! Kakekmu?! Pasti bukan Nad. Adikmu?! Ah, tak mungkin. Ayahmu ?! Walah, apaa lagi. Kamu Nad?! Gak mungkin
Aku bingung. Hatiku kian gelisah. Maka aku langsung turun dan berlari memasuki rumahmu, menghambur, berteriak, bertanya, siapa yang terbujur kaku itu.
Suasana hening seketika. Orang-orang lekat memandangiku. Tapi nggak apa Nad, aku sudah terbiasa dibuat malu. Kain penutup disingkap dari tubuh yang terbujur kaku itu. Ah… ! Siapa itu?! I…i…i… itu kamu Nad!
Aku terhempas. Seketika hatiku pecah berkeping-keping. Air mata banjir membasahi pipiku. Potongan mozaik hidupku bersamamu kembali terhempas di otakku, membuatku hampir tak sadarkan diri. Dunia berpuar kencang. Aku terduduk membisu, lemah.
Keranda diangkat, digiring dengan Tahlil. Aku sendiri yang mengangkat kerendamu Nad. Ini saat terakhirku untuk bisa bersamamu. Bisakah aku merelakanmu sayang?!
Perlahan tubuhmu diturunkan. Alam kubur di depan matamu, Nad. Jangan takut, aku percaya kamu syahid, tak ada balasan yang lebih layak bagi orang yang syahid selain surga. Bukankah begitu, Nad?! Iyakan?!
Gemetar aku menahan perihnya hati, melihat kamu ditimbun tanah. Maaf Nad, aku tak mampu menimbunmu, aku terlalu mencintaimu.
Perlahan orang-orang meninggalkanmu. Aku akan tetap disini, aku tak mampu melepasmu, apalagi harus melupakanmu, sedikit pun aku tak mampu.
Tiba-tiba Ayah dan Ibumu mendekatiku dan memberikan buku bersampul biru langit. Aku bingung.
“Sar, ini buku harian Nadia. Paman mohon, jaga buku ini dengan hatimu!” ungkap Ayahmu.
Aku mengangguk pelan. Kulihat Ayah dan Ibumu masih sedih mengharu biru. Mereka pun pergi dan hanya aku sendiri disini menemani.
Kubuka lembaran pertama dari buku itu. Aku menemukan keping-keping hatimu, potongan mozaik hidupmu yang menyayat hatiku. Kenapa kamu tak jujur padaku tentang kangker payudara yang merenggut kebahagiaanmu?! Kenapa, Nad?! Kenapa?! Ah…!
Tak mungkin menyalahkan waktu, tak mungkin menyalahkan keadaan, kau pergi tak mungkin kembali lagi. Aku yang salah Nad. Aku! Aku tak sepenuh hati menjagamu. Maafkan aku, Nad! Kali ini air mataku tak tertahan, keperihan hatiku sudah tak bisa kusimpan.
Nad, keadaanku telah jelas kaulihat, tak ada satu rahasia pun yang tersembunyi. Di hadapan orang banyak pun, derita cintaku tak berkurang. Bagaimana kamu ingkari Nad, sebuah cinta yang disaksikan cucuran air mata di depanmu, dan sakitnya hati yang tengah kehilangan. Nad, kalau bukan karena dalamnya cintaku, tak pernah ada air mata yang membasahi bumi, dan cucuran air mata ini bukan karena hal lain, selain karena kehilanganmu, Nadia.
Bersama kesedihan aku berjalan lunglai. Dunia tak lagi berwarna, karena kamulah warna hidupku Nad. Sekarang warna itu hilang bersama hilangnya dirimu di sisiku.

(20 – 05 – 2009)
Kubuka kembali buku harian keping-keping hatimu Nad. Setiap keping yang kubuka takkan luput dari air mataku. Nad, sejak hari itu, aku mengutuk diriku sendiri, aku masih tak mampu maafkan diriku, Nad. Tapi aku berjanji, aku akan menjadi dokter yang mampu menemukan obat kangker itu. Aku yakin aku bisa, biar saja aku bermimpi, Tuhan akan memeluk mimpi-mimpiku, biar saja aku terus mengagumi dan simpan cerita tentang kita. Nad, kamu telah mengajariku cinta, membuatku berani menatap masa depan yang menantang. Percayalah Nad, walaupun kamu tak disini, hatiku selalu untukmu. Keping-keping hatimu ini, akan kujaga seumur hidupku. Pasti…, Nad!!

Andaikan kau masih ada
Disini mendampingiku
Tak pernah sekejap pun
Kualihkan engkau dari perhatianku.[]
lembaran Hitam
Oleh : Anc4yimuet

Waktu yang terus berputar menempatkanku di tengah roda kehidupan, masa remaja. Masa yang berapi-api, kata Bang Roma Irama. Dan hari pun silih berganti selalu melangkahkan kakiku, terus berjalan menjalani kehidupan. Hingga aku mendapati diriku berada di tengah hiruk-pikuk aktifitas santri di Pondok Pesantren Al Falah.
Inilah asramaku, disinilah penjara sucikiu. Tapi… ada hitam di lembar putih hidupku, aku tak bisa menghapusnya dengan mudah, perlu sebuah perjuangan untuk itu, maukah kamu membantuku, teman?!
***




“Oi…, bagi-bagi pang rokoknya bro!” pinta Opek padaku.
“Bah… bamodal pang hidup,” jawabku ketus.
“Umay…., saisapan haja nah.” Opek sok manis.
“Gak usah layaw…!” kataku sambil menjauh dari Opek.
Dia tersinggung dan berkata, “Dasar pamalar! Okey, kuingati lah….”
“Hahahaha…” aku hanya tertawa penuh kemenangan.
Dengan penuh kenikmatan kuhembuskan asap rokok dari mulutku. Asapnya mengepul bergulung-gulung. Aku bingung mendapati diriku menjadi seperti ini. Bukankah aku tidak seperti ini dulunya? Apakah asrama Malik ini yang membuat aku berubah?! Bukan. Jawabannya ada pada diriku sendiri. Tapi apa diriku bisa menjawab?! Ah… sudahlah!
***
“Pulsa pang bro!” ujar Jani, salah satu pelangganku.
“Barapa handak?” tanyaku.
“Eh… lima ribu gin…,” jawab Jani akhirnya setelah sedikit berpikir.
“Nomor yang semalam jua kah, Jan?” tanyaku lagi.
“Hi’ih. Yang ngiitu pang,” jawabnya santai.
“Sudah takirim, tujuh ribu bro!” kataku menagih bayaran untuk pulsa yang sudah kuisikan.
“Nah, tukar!” ujar jani sambil pergi.
“Jual…. Wah, cair pulang nah…”
Ini adalah pelanggaran level A. Sebenarnya membawa HP ke pesantren ini adalah pelanggaran level C, tapi karena aku adalah Bandar pulsa, maka pelanggaran ini digolongkan ke level A. Luar biasa keren, bukan?! Hehehe…
Kau tahu, apa yang akan menimpaku bila aku ketahuan? Diberhentikan tentunya. Ini adalah resikonya, jadi jangan coba-coba ikuti langkah ku ya! Kecuali kamu sudah bosan hidup di pesantren ini.
***
Akhir-akhir ini para Ustadz dan Satpam sedang gencar-gencarnya memburu penjahat. Aku sebagai salah satu buronan besar, tentunya harus sangat berhati-hati. Tanpa diminta aku telah membuat poster buronan diriku sendiri. Aiiih…, Keren bukan buatan poster itu. Kepalaku dihargai 300 ribu rupiah. Hehehe… Cukup mahal untuk buronan dalam pesantren ini, kukira.
Kudengar, sudah ada lima orang santri yang ketahuan melanggar peraturan. Hahaha… Mereka lagi sial rupanya.
***
Walaupun aku ini penjahat, tetap saja ada peraturan yang sangat kuharamkan melanggarnya untuk diriku sendiri. Mau tahu apa? Ah, kamu memang selalu ingin tahu, kawan. Baiklah, aku mengharamkan diriku untuk loncat pagar. Walaupun ini hanya pelanggaran level B, tapi coba lihat akibat yang akan menimpaku bila loncat pagar, Mu’allim K.H. Muhammad Tsani sendiri yang berkata, “Siapa yang berani meloncati pagar itu, sama saja dia berani melangkahi kepala saya!”
Banyak sudah buktinya. Tak sedikit santri yang ‘katulahan’ karena berani meloncati pagar. Tahukah kawan, akibat ‘katulahan’ itu? Minimal, ilmunya tidak bermanfaat. Ah…, lebih baik tidak usah sekolah kalau Cuma akan mendapat ilmu yang tak bermanfaat. Jadi kuperingatkan, janganlah sekali-kali loncat pagar. Jika kawan sudah pernah, cepat-cepat taubat, minta maaf kepada Mu’allim. Terserah kawan mau mendengarkan atau tidak, aku hanya mengingatkan. Ya, walaupun aku sendiri penjahat.
***
“Say, ulun bulik dulu lah!” ujarku kepada Awal, pacarku.
“Bah, satumatnya, say?!” Awal merajuk.
“Ulun hauran di rumah. Kena ada ai pulang ulun baelang…,” jelasku.
“”Ayuha, mun kaya ngitu!” jawab Awal akhirnya setelah diam cukup lama.
“Ya, assalamu’alaikum!” ujarku sambil beranjak pergi.
“Wa’alaikum salam!” jawabnya juga sambil beranjak pergi dari ruang tunggu.
Aku melangkah keluar sambil melemparkan senyum kepada Satpam yang bernama paman Qomar itu. Dia balas tersenyum. Ini adalah aktifitasku tiap pulang bulanan, apel ke ruang tunggu santri puteri. Ya, menemui soulmate-ku lah…. Kok bisa? Emangnya di pesantren boleh pacaran? Ya nggak lah…! Ini termasuk pelanggaran level A. Aiiih, resikonya sama dengan Bandar rokok, diberhentikan. Keren bukan main ‘kan?
Kamu mau tau caranya? Ah, kali ini nggak usah, ya? Hehehe… Aku sendiri bingung, kenapa sangat mudah begini ketemuan. Apa mungkin pengawasnnya kurang? Ah, gak! Kamu tau kartu AS yang bisa bikin kamu dapat bolak-balik ke seberang sana? Aiiih…, pasti kamu nggak tau. Aku punya kartu itu. Mau tau? Gak usah layaw…!
***
Aku bingung. Hidupku benar-benar tak tenang. Kenapa ini, hatiku gelisah sekali. Asap rokok mengepul dari tadi, tapi aku tak merasakan lagi kenikmatan seperti biasanya. Hampakah hatiku ini? Ah…! Apa pun itu tolong jangan singgah di hatiku.
***
Aku tanya diriku
Apa yang kuharap dari hidup
Dia jawab padaku
Aku ingin kebahagiaan
Aku mau hidup bahagia

Aku tanya hatiku
Apa yang kumau?
Dia jawab padaku
Aku mau ketenangan

Tapi apa yang menusukku?
Sudah jauh salah langkahku
Tapi sebenarnya aku, hatiku
Bisa kembali demi kamu
***
Aku kembali melongo ketika kudapati diriku berada di makam Mua’llim, meminta ma’af dan berjanji akan berhenti merokok dan melanggar peraturan lainnya. Akankah aku mampu? Aiiih…, keren bukan main diriku ini. Aku bisa bangga pada diriku. Kawan, aku sudah menemukan jawaban dari pertanyaanku dulu. Bukan asrama Malik yang merusak dan mengubahku, melainkan nafsuku sendiri. Aku tau, biar seperti apapun tempatku, bila bukan kehendakku sendiri, aku takkan pernah terperangkap di dunia hitam itu. Jadi semua salahku, salahku semua, aku salah memilih. Tapi aku takkan pernah menyesali semua yang sudah terjadi. Terimakasih, Kawan! Mulai saat ini aku akan menjalani hidup yang wajar-wajar saja. Dan bahagia tentunya.[]